Pages

Friday, February 15, 2013

Menghormati Moratti, Memuji Mourinho


Selasa sore, Maradona sempat mengunjungi kamp latihan Inter, Centro Sportivo Angelo Moratti, di Appiano Gentile, dan bertemu dengan allenatore Jose Mourinho. Berikut petikan wawancara Maradona dengan Inter Channel sesaat sebelum meninggalkan Gentile menuju Giuseppe Meazza.

Sepanjang sejarah, Inter merupakan salah satu klub yang paling banyak memakai pemain asal Argentina. Tidak kurang dari 35 pemain yang telah memakai kostum Nerazzurri. Kini, enam di antaranya tercatat sebagai anggota skuad. Itukah alasan Anda mengunjungi Inter?
Pertama-tama, saya harus mengucapkan terima kasih kepada Massimo Moratti, yang tanpa diragukan lagi adalah presiden saya di Italia. 

Sosok yang telah membuat Inter menjadi begitu hebat. Salah satunya, merekrut (Jose) Mourinho di musim panas lalu, seorang pelatih yang bakal saya pekerjakan seandainya saya menjadi presiden di klub manapun di dunia ini. Jose punya segalanya, ia tahu bagaimana cara bersikap terhadap pemain, media massa, dan di ruang ganti pemain. Saya pikir, dialah pelatih terbaik di dunia saat ini.

Andaikata kesempatan itu ada, bersediakah Maradona bermain bersama Inter di bawah kendali Massimo Moratti?
Tentu saja, iya. Tanpa diragukan lagi. Dengan segala hormat kepada fans Napoli yang selalu ada di hati saya (Napoli adalah klub Italia pertama yang diperkuat Maradona, 1984-1991), saya percaya jika Moratti ketika itu menjadi presiden, maka saya bakal memakai kostum Inter.

sumber : bola.liputan6.com

Mourinho: Hati Saya Inter Milan


Pelatih Jose Mourinho mengatakan, dirinya melatih Real Madrid untuk mengembangkan kariernya, tetapi hatinya adalah Inter Milan.

Sebelum melatih Madrid, 2010 lalu, Mourinho menangani Inter Milan selama dua musim. Pada musim kedua, ia membawa Inter menjuarai Serie-A, Piala Italia, dan Liga Champions.

"Saya punya kenangan indah bersama Inter. Saya pindah karena menang bersama Madrid akan membuat saya masuk sejarah, tetapi hati saya tetap Inter Milan. Inter adalah klub yang ingin saya tinggali lebih lama," ujar Mourinho.

"Tak ada tempat lain yang memberikan kegembiraan seperti di sana. Inter adalah keluarga dan selamanya saya adalah keluarga 'I Nerazzurri'. Ketika saya pergi, saya menangis lebih dari sekali. Saya hidup dalam lingkungan fantastis di tempat saya melatih, Pinetina, dan di Meazza."

"Kenapa saya meninggalkan Milan dan pindah ke Madrid? Itu adalah untuk ketiga kalinya Madrid menawarkan kursi pelatih kepada saya dan teman saya mengatakan, 'Kamu bisa menjadi pelatih besar, tetapi jika kami tak menjadi juara bersama Real, akan selalu ada yang kurang,'" tuturnya.

Sumber : bola.kompas.com

Kontroversi Jose Mourinho


Bicara Jose Mourinho tidak akan pernah lepas dari kontroversi. Sejak pernyataannya di depan media Inggris bahwa dirinya adalah ‘The Special One’, Mourinho memang lekat dengan ucapannya yang ‘provokatif’. Hal tersebut masih berlaku kala ia menukangi Real Madrid. Mulai dari suporter, rival abadi seperti Barcelona, hingga petinggi klub sendiri, pernah merasakan abu hangat ‘perang kata’ dengan El Unico. Tak terkecuali baru-baru ini. Di antara riak gosip bahwa dirinya akan hijrah dari Real Madrid akhir musim nanti, Jose Mourinho ‘mengangkat bendera perang’ terhadap pemilihan pemain terbaik dunia (Ballon d’Or), Atletico Madrid, hingga nasibnya sendiri; tentu dengan gaya bicara khasnya yang kadang membuat kerinduan tersendiri. Terakhir, pria Portugal menyatakan, bahwa jika pun ia akan meninggalkan Los Blancos, ia tidak akan beristirahat dalam setahun. Alias, langsung menangani tim lain.

“Yang bisa saya katakan, andai pergi musim depan, saya akan tetap bekerja, tidak tahu di sini atau di tempat lain,” demikian yang menjadi ucapan Jose Mourinho ketika ditanyai seputar isu kepergiannya dari Real Madrid pasca duel Los Blancos vs Ajax (4-1) di laga terakhir babak penyisihan grup Liga Champions. Jawaban yang ambigu, cerdas, dan mungkin menyindir seseorang. Demikianlah gaya khas seorang Jose Mourinho selama ini. Di mana pun ia berada.

Gosip kepergian Mourinho bukanlah hal baru di Real Madrid. Namun, memang menghangat di pekan-pekan ini. Harian Marca sampai mengeluarkan polling untuk melihat respons fans tentang siapa yang kira-kira layak menggantikan The Special One. Dan, di antara gosip hengkangnya ia dari Los Merengues, Jose Mourinho masih sempat untuk ‘memanaskan keadaan’. Baru-baru ini, ia baru saja menyindir dua orang sekaligus.

Pertama, para petinggi sepakbola dunia yang dianggapnya tidak netral dalam pemilihan pemain terbaik dunia. Bagi Mourinho, gelar Ballon d’Or 2012 pasti akan diberikan kepada Lionel Messi. Apalagi baru-baru ini, Michel Platini, sang presiden UEFA, menyatakan, andai Messi meraih Ballon d’Or keempat, sang mesiah memang layak mendapatkannya.

Kedua, terhadap Mono Burgos, asisten pelatih Atletico Madrid. Burgos baru saja memberi ancaman kepada Mourinho dalam Derby Madrid. Ia berkata, “Saya bukan Tito. Saya bisa mencabut kepala Anda!” Uniknya, kala diwawancarai seputar ancaman Burgos ini, dengan enteng Jose Mourinho berkata tak mengenal Burgos. Ucapan yang kemudian disambut oleh Presiden Atletico Madrid, Enrique Cerezo yang berkata, “Siapa Mourinho? Apakah dia presiden Celta Vigo?”

Sebelum kontroversi ini pun, Mou sudah banyak bertukar kata dengan banyak orang. Semisal, Madridistas. Sergio Ramos di awal musim ini. Alberto Toril, pelatih Real Madrid Castilla. Namun, tidak ada yang lebih terkenal daripada ‘pidato Por que (Mengapa)’ ala Mourinho di semifinal Liga Champions 2010-2011. Demikianlah. Ia memang lekat dengan kontroversi. Tapi, senantiasa dinanti komentarnya. Ya, Jose Mourinho memang The One, satu-satunya.

5 Aturan Melatih ala The Special One’s Jose Mourinho


Mourinho dikenal sebagai pelatih yang tak kenal kompromi dan menjunjung tinggi kedisiplinan. Pelatih 47 tahun tak segan-segan mencoret seorang pemain dari skuad jika memang melanggar aturan yang diterapkan. Mou pernah melakukannya terhadap striker belia Mario Balotelli serta Adriano Leite, kala masih bersama Nerazzurri.Kini, bersama pasukan Los Blancos, Mou tampaknya tidak akan mengubah sikapnya itu. Tidak peduli berapa banyak pemain bintang yang memperkuat skuad.

Sedikitnya, Mourinho punya lima aturan dasar yang wajib dipatuhi seluruh punggawa El Real. Iker Casillas dkk tidak punya pilihan lain kecuali mematuhi aturan tersebut, jika ingin mendapatkan posisi reguler di starting XI Los Galacticos.

Berikut kelima aturan The Special One :

1. Tidak ada kata terlambat saat latihan
Mourinho berharap seluruh pemainnya datang tepat waktu setiap menjalani sesi latihan. Terlambat satu menit saja, jangan harap bisa mengikuti sesi latihan tim di Valdebebas. Mereka yang terlambat dipersilahkan melakoni latihan seorang diri.

2. Ketepatan waktu juga berlaku saat hendak melakoni laga
Semua pemain diharapkan sudah siap di depan hotel dan berangkat menuju tempat pertandingan sesuai jadwal yang ditetapkan. Terlambat datang? Silahkan berangkat sendiri ke stadion.

3. Latihan intens 90 menit
Mourinho mewajibkan semua anak asuhnya melakukan latihan fisik intens selama 90 menit dalam setiap sesi latihan.

4. Pemain yang cedera datang lebih awal
Jika merasa kurang fit ataupun mengalami cedera, pemain harus datang satu jam lebih awal ke Valdebebas untuk diperiksa oleh dokter tim. Nantinya, dokter lah yang akan memberitahukan Mou tentang kondisi pemain. Mou tidak akan menerima permintaan latihan ringan bagi pemain pada menit-menit terakhir.

5. Ponsel dilarang berbunyi setiap berada di bus
Memang tidak berhubungan langsung dengan performa pemain. Tapi, Mou melarang keras para pemainnya membunyikan ponsel saat berada di dalam bus. Mereka boleh menyalakan ponsel, namun harus dalam kondisi silent.

Menangani Klub dengan 'Jurus Cinta'


Klub-klub besar lazimnya memiliki sejumlah tantangan yang juga besar, di antaranya pemain bintang yang punya ego menjulang. Jose Mourinho tak asing dengan kondisi itu dan ia pun menuturkan bagaimana cara menyiasatinya.

Selama kariernya melatih, Mourinho sejauh ini sudah menangani Benfica, Uniao de Leiria, Porto, Chelsea, Inter Milan, dan sekarang Real Madrid. Usai meraih sukses bersama Porto, pria Portugal 49 tahun itu memang selalu mengundang minat klub-klub besar Eropa yang berharap menuai hasil oke dari tangan dinginnya.

Menangani klub besar nan ambisius tidak selalu menjadi hal mudah. Selain ada ekspektasi yang mesti dipenuhi, pemain-pemain bernama besar yang ada di klub tersebut bisa memberikan tantangan tersendiri.

Hal itu tidak disangkal oleh Mourinho. Tetapi ia pun sudah menemukan jurus tepat untuk menciptakan keselarasan antara dirinya sebagai pelatih dengan para pemain bintang yang lazimnya berego besar.

"Para pemain harus bisa menyesuaikan dengan egoku. Ini adalah perpaduan keduanya, kami harus bisa menyatu sebagai keluarga karena kami punya dua keluarga, keluarga sebenarnya dan keluarga di klub kita," terangnya dalam acara "Meet and Greet with The Special One" yang diikuti sejumlah wartawan, di antaranya detikSport, di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (13/6/2012) malam.

"Jelas kita lebih cinta keluarga kita sebenarnya, tapi masalahnya kita lebih sering dengan klub dibanding keluarga. Maka itu kita harus bisa saling membina hubungan. Kita pun punya masalah, mungkin dengan teman, istri, kakakmu atau siapapun. Namun, jika ada cinta, maka orang akan bisa menyelesaikan masalah itu. Begitu pun di sepakbola. Aku bukan orang yang sempurna dan begitupun pemain. Aku tahu baik dan buruknya pemain, begitu pun mereka," beber Mourinho.

Mengaku selalu bekerja dengan senyum dan hasrat besar, Mourinho juga dikenal amat dekat dengan pemainnya. Bahkan setelah ia hijrah dari sebuah klub, tidak jarang Mourinho masih akrab dengan mantan pemainnya.

"Aku dan pemain seperti teman. Mungkin aku tidak bisa katakan 100 persen, tapi 99 persen aku dan mantan pemainku tetap berteman," terangnya.

Sumber : sport.detik.com

Cara Mourinho Memengaruhi Wasit


Menurut wasit Inggris, Graham Poll, yang berusia 49 tahun, Mourinho memiliki pribadi yang memikat. Ia memiliki caranya untuk bergaul dan mengakrabi wasit.

Poll mengingat masa-masa awal Mourinho datang ke Inggris untuk melatih Chelsea pada 2004. Luso mengundang Poll ke sesi latihan Chelsea untuk memperkenalkan dirinya dan tim. "Dia sangat memesona dan memperkenalkan saya kepada timnya sebagai 'wasit terbaik di Eropa,'" tulis Poll.

Secara tersirat, Poll sebenarnya ingin mengatakan Mou sangat mempertimbangkan peran wasit dalam kemenangan timnya. Sebelum hijrah ke London, Poll memimpin tiga laga Mourinho bersama Porto. Di tiga laga itu, Mourinho meraih kemenangan.

Di tahun pertamanya di Inggris, Poll memimpin enam laga yang dimainkan Chelsea. Pertandingan pertama adalah laga bersejarah dengan mengalahkan raksasa Manchester United 1-0. Usai laga, Mou menghampiri Poll dan mengatakan "semuanya OK". Sebaliknya, sang wasit memberikan candaan dengan mengatakan ruang wasit di Stamford Bridge terlalu "sepi" dan perlu sekurang-kurangnya beberapa dekorasi.

"Lima pekan kemudian saya kembali ke sana. Ruang wasit memiliki dua alat penyiram (shower) baru, pujian di toilet, dan televisi layar datar," kata Poll.

Situasi berbeda ketika Poll memimpin pertandingan di mana Chelsea kalah. Saat The Blues takluk 2-1 dari Liverpool di semifinal Piala FA di Old Trafford, Mourinho mendatangi Poll di ruang ganti dengan wajah yang tak lagi memikat sambil berkata, "Aku pikir kau temanku".

Dan Poll menulis, "Kau boleh saja membuat kesimpulanmu sendiri, tapi aku memilih mengabaikannya". 

Pengakuan yang dituturkan Poll menunjukkan bagaimana pelatih berusia 50 tahun itu memengaruhi wasit untuk kepentingan pertandingan pasukannya. (Dailymail)

Monday, December 3, 2012

Tanpa Sampanye


Saya tidak meninggalkan stadion ini pekan lalu menangis setelah imbang melawan Bari dan saya tidak meninggalkan stadion ini dengan sampanye setelah kemenangan ini.

Ini adalah ucapan dari Jose Mourinho yang sangat saya sukai. 

Jose Mourinho tidak ingin terlena dengan kemenangan Inter Milan 4-0 atas AC Milan. Jose Mourinho tetap fokus menghadapi pertandingan berikutnya. Kemenangan ini membuat Javier Zanetti dan kawan-kawan kembali difavoritkan untuk mempertahankan gelar pada musim 2009-2010.

Pada musim ini memang permainan Inter Milan jauh lebih baik daripada musim lalu terutama perubahan yang cukup signifikan diperlihatkan Inter adalah mental bermain.

Inter telah berubah secara pemain dan mental. Dan hal ini dibuktikan dengan diraihnya Treble Winner di akhir musim.

Saya tidak berpikir untuk tidak memenangkan pertandingan ini, kami masuk ke lapangan dengan ide yang tepat dan kami menang, kilah Mourinho. Saya tidak meninggalkan stadion ini pekan lalu menangis setelah imbang melawan Bari dan saya tidak meninggalkan stadion ini dengan sampanye setelah kemenangan ini.

Related Posts